Kereta sekarang menjadi alat transportasi yang akrab dengan saya semenjak persiapan praktek lapang dan saat praktek lapang…
Dulu pernah nyobain naik bis Bogor-Kalideres..tapi ga tahan dengan ngetemnya yang pernah hampir 2 jam..
dari 4 kali Palmerah, sudah 2 kali saya naik kereta jurusan tanah abang..
yang pertama, waktu sehari sebelum hari pertama praktek lapang. Saat itu saya putuskan untuk naik Pakuan Ekspress yang berangkat dari Stasiun Bogor pukul 16.28. ternyata saya sudah sampai di stasiun pukul 15.40. Jadinya menunggu sampai kereta berangkat. kereta dari bogor ke tanah abang pada jam segini..sangaaaaaaaaat lengang..ada yang tiduran di kursi kereta Pakuan Ekspress yang ke Tanah Abang..bahkan di gerbong yang paling depan, hanya ada 5 orang..Kereta Pakuan Ekspress berhenti di beberapa stasiun saja. yang paling saya inget adalah ada seorang ibu dan dua orang bapak yang salah naik kereta.
si Ibu akhirnya harus membeli karcis suplisi seharga 30 ribu rupiah karena dia tujuannya stasiun pasar minggu dan kereta tak berhenti di stasiun pasar minggu. seorang bapak juga salah naik kereta karena tujuannya ke kota dan memegang karcis kereta ekonomi. sedangkan bapak yang satunya lagi tidak membeli karcis suplisi, karena tujuannya adalah Stasiun Gambir sehingga dia memiliki karcis Pakuan Ekspress (Bogor-tanah abang/jakarta)
Setelah lima hari PL, saya putuskan untuk ke Bogor
Karena hari minggu saya terlalu lelah dan agak enggan untuk pulang ke Bogor, saya putuskan untuk pulang hari Senin pagi dengan kereta ekonomi pertama tujuan tanah abang..
Suasananya sangat berbeda sekali dengan kereta ekspress yang saya ceritakan diatas. saya sampai stasiun bogor pukul 04.30..(klo pagi2..Darmaga-Stasiun Bogor cukup ditempuh dalam waktu 30 menit saja…).setelah saya sholat subuh, saya langsung naik kereta tersebut. saya sudah tidak kebagian tempat duduk, padahal sudah berada di gerbong paling depan. Satu gerbong isinya laki-laki semua..saya putuskan untuk berdiri di depan orang yang duduk, karena posisinya lebih aman sedikit daripada dekat pintu. terlihat sekali suasana kekeluargaan disana. Dugaan saya, mereka memang sering bertemu ketika akan menggunakan kereta ini setiap hari kerja pada gerbong yang sama.
Keretapun berangkat menuju Tanah Abang (terus ke Stasiun Angke).
Di Stasiun pertama (Cilebut), kereta singgah. banyak penumpang yang naik, sehingga tengah gerbong yang tadinya kosong langsung terisi. Merekapun sempat menyapa seorang Ibu.
“Ibu xxx sudah dapat tempat duduk ???” tanya salah seorang yang dari Bogor.
“Sudah..” jawab seorang Ibu yang tak tampak oleh saya..
Di Stasiun kedua (Bojong Gede), kereta kembali singgah. tengah gerbong yang telah terisi menjadi sangat padat, saya pun terdorong ke depan, sehingga saya berusaha untuk menahan dengan kedua tangan saya. Lagi-lagi ada sebuah suara
“Ibu xxx sudah masuk ??” tanya penumpang yang dari Bogor tadi..
“sudah, pak.” jawab sebuah suara yang lagi2 tidak kelihatan.
Dari dua stasiun ini tampak jelas bahwa mereka yang berada di gerbong ini telah melakukan rutinitas ini sehingga saling mengenal.
Dua orang ibu berada disamping saya, salah seorang dari mereka berkata :” Citayam ngeri banget dorongannya”
sampailah di stasiun ketiga (Citayam). omongan ibu itu terbukti. Banyak orang dari luar yang mendorong ingin masuk ke dalam kereta. Saya pun ikutan menahan karena dorongan lebih kuat dibandingkan di Stasiun Bojong Gede.
Jalur Citayam-Depok Lama merupakan jalur yang terpanjang dari jalur antar stasiun Jakarta-Bogor.
Sampai di Depok Lama, hanya beberapa orang yang turun. yang naik lebih banyak lagi. dan mulai terlihat Atap-ers dan Spiderman. Di Depok Baru, banyak penumpang yang naik. Di dua stasiun ini, mereka tidak terlalu medorong seperti yang naik dari Citayam.
Sampai di Pocin, terlihat bahwa sangat sedikit calon penumpang, yang turun juga ada beberapa orang. di UI, Univ.Pancasila dan Lenteng Agung tidak terlalu berbeda dengan di Pocin.
Lanjut menuju Tanjung barat, penumpang yang turun ada sekitar belasan orang, tetapi yang naik juga belasan orang. keadaan yang tidak jauh berbeda saya temukan di Stasiun pasar minggu, Stasiun Pasar minggu baru dan duren kalibata.
Sampai di Cawang, cukup banyak yang turun, tetapi kepadatan dalam kereta masih terasa.. Begitupula di Tebet. di manggarai sudah agak terasa lebih lengang.
ternyata kebanyakan dari mereka turun di Stasiun SUdirman. keadaan langsung lega. di stasiun dukuh atas, sedikit penumpang yang turun. Akhirnya saya tiba di stasiun tujuan (Tanah Abang). Saya harus turun, karena kereta akan lanjut ke stasiun Angke, tidak seperti kereta Ekspress yang pemberhentian terakhir di Stasiun Tanah Abang.
Seru sekali jika naik kereta ke Tanah Abang…Berniat mencoba ???

6 comments
Comments feed for this article
Maret 2, 2009 pada 5:21 pm
visakana
ke stasiun pasar minggu lebih seru,,, sussssaaaaaaah banget keluarnya….
Maret 2, 2009 pada 9:40 pm
weibullgamma
@mel : klo ke pasar minggu,berarti nambah kendaraan lagi..
Naik 57,abis itu naik 46,baru naik M11…
cape deeeh..mending di tanah abang…tinggal naek M11
Maret 3, 2009 pada 11:59 am
Cibinong Agency
Wah informasi di website ini berguna sekali buat kita semua.
Ayo update terus biar lebih keren lagi sehingga kita jadi nggak bosen berkunjung di sini.
O ya, bagi yang belum berlangganan koran, Cibinong Agency melayani kebutuhan informasi Anda….
Maret 3, 2009 pada 12:04 pm
naD2ieDhiYa
mending naek bis deh…
nyaman..
Maret 8, 2009 pada 2:33 pm
Luthfi
hua
aku dulu waktu kerja di pejaten n masuk jam 7 pagi
sering banget naek krl yg jam 5 pagi
di st cilebut n bojong, rata2 penumpangnya dah pada ngegeng.
Kalo krl tujuan st kota, gerbong no 1-4 biasanya penuh, orang2nya rada aneh2 (suka teriak2, gedor2 gerbong dst). Tapi cuman oknum koq
Jam 5.45 kalo ga salah ada krl eko ac tujuan tanah abang
(cmiiw)
April 3, 2009 pada 9:58 am
visakana
ini maksudnya ya nto,,, yg katanya padet banget,,dulu awal2 PL,, biasanya naek ekonomi yg jam 6,, kondisinya sesek gitu,,ampe ga’ bisa keluar